Beranda > Buletin > Dosen Fkip Untirta Membentuk Forum Perubahan

Dosen Fkip Untirta Membentuk Forum Perubahan

(BULETIN EDISI PERTAMA)

Dalam konteks wacana politik nasional, kita semua bersepakat bahwa tonggak reformasi telah dimulai sejak mundur (baca: dimundurkannya) Soeharto sebagai presiden, yang berkuasa sekira tiga dasawarsa lebih di negeri ini. Sejak itu, Soeharto dilabeli sebagai ikon tirani dan penguasa rezim yang telah bertindak lalim sehingga bangsa ini terpuruk dalam pelbagai kemunduran dan hidup dalam kondisi minus dengan beban masalah yang bertumpuk. Sebagian besar masyarakat seolah bersekutu dalam barisan untuk menjadikan Soeharto dan kroninya sebagai musuh bersama. Maka, dimulailah diskursus dan perbalahan yang ramai untuk mencari sosok tokoh yang siap memandu bangsa ini menuju perubahan dengan koor bersama yang dijuduli ”Reformasi”.
Namun, setakat ini aksi reformasi 1998 yang diinisiasi dan digaungkan oleh mahasiswa dan segenap tokoh reformis seperti jalan di tempat. Amanat suci reformasi berupa deklarasi kehendak untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta penegakan supremasi hukum dalam pelbagai bidang dan tingkatan semakin nyaris tak terdengar bahkan cenderung menjadi slogan yang beku dan jargonis. Reformasi gagal menjadi aksi meski setiap saat didengung-dengungkan. Reformasi tidak mampu menciptakan kebebasan dan kesejahteraan di semua sektor kehidupan, tak terkecuali di masyarakat kampus. Bahkan, yang lebih mengerikan kini sebagian masyarakat balik mengangggap reformasi sebagai biang kekacauan. Ada analogi yang nyinyir yang kemudian menjadi common sense dan logika terbalik bahwa hidup di masa lalu jauh lebih baik dibandingkan masa kini. Tentu angapan semacam itu sama sekali keliru dan menunjukkan kemunduran berpikir. Namun, munculnya anggapan seperti itu harus disadari pula karena pemimpin yang berkuasa masa kini tetap gagal menjadi pengusung perubahan menuju era yang segala-galanya lebih baik. Secara ekstrem dapat dikatakan bahwa kepemimpinan masa ini lebih tepat dilihat sebagai reduplikasi (pengulangan) ketimbang sebagai reformasi (perubahan). Apa bukti dari inferensi itu? Tengoklah angka statistik tentang berapa digit angka pertumbuhan ekonomi yang dapat diungkit; tinjaulah angka masyarakat miskin yang dapat diturunkan; lihatlah rekening utang negara yang harus ditanggung rakyat; intiplah perilaku korupsi dan kolusi yang berhasil dibasmi; pelototilah jumlah warga masyarakat yang tidak terlayani kebutuhan pendidikan dan hak-haknya yang lain gara-gara anggaran yang diselewengkan; tataplah bukti-bukti ketidakseriusan dan ketidakbecusan pemerintah dalam menjalankan hukum dan peraturan; serta sederet bukti dan temuan lain yang sungguh mencengangkan.
Lalu, gayut dengan paparan di atas, di manakah kiprah kampus dan warga kampus ketika harus bersemuka dengan masalah itu? Tidak bisa dimungkiri oleh siapa pun bahwa sejarah telah membuktikan kampus selalu tampil mengusung idealisme untuk mengubah dan berubah walaupun komponen masyarakat yang lain menutup mata dan telinga. Kita tidak mungkin dapat menegasikan dan menafikan bahwa dari lingkungan kampus telah lahir tokoh-tokoh yang punya kiprah dalam kerangka aksi reformasi, baik secara kelembagaan maupun personal. Kampus selalu tampil menjadi agen pencerah yang dengan keunggulan potensinya disadari ataupun tidak telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini. Dari beberapa kampus (perguruan tinggi), lahir tokoh-tokoh yang membidani pikiran kritis dan aksi konkret sebagai wujud koreksi terhadap kebijakan dan pelaksanaan pemerintahan yang deviatif meskipun berdampak risiko yang tidak kecil.
Melihat kondisi empiris kini, tentunya kampus (dosen dan mahasiswa) bertanggung jawab menggelorakan kembali amanat reformasi yang mati suri. Gelora reformasi / perubahan harus dimulai dari lingkungan kampus sendiri. Kampus harus memiliki kepekaan dan elan untuk terus melakukan perubahan agar berdampak positif terhadap masyarakat luas. Jika kampus telah berhasil menjadi aktor perubahan, maka secara persuasif masyarakat bukan sekadar simpati, melainkan dalam nuraninya akan tumbuh kesadaran untuk ikut serta dalam perubahan. Perubahan bukan hasil menanti, melainkan hasil ikhtiar tiada henti. Perubahan bukan dampak dari berlalunya waktu, melainkan hasil jerih payah yang tak kenal waktu. Kesadaran seperti ini yang harus diterbitkan di benak siapa pun, termasuk di lingkungan kampus kita sendiri.
Dengan mencermati kondisi objektif di lingkungan kampus kita sendiri, terutama di FKIP Untirta semestinya tumbuh aras kesadaran dalam diri kita bahwa betapa banyak yang mesti disilaturahmikan, didialogkan, diluruskan, dan dibenarkan. Tentu, kita berharap ada perubahan di Banten sebelum Indonesia, ada perubahan di UNTIRTA sebelum di Banten, dan ada perubahan di FKIP sebelum di UNTIRTA. Maka, untuk sampai di garis finish seperti itu, kita harus berhimpun untuk ada di garis start yang sama, yakni dengan menjadi pelaku perubahan di FKIP Untirta. Bukankah berada dalam satu barisan lebih bermakna daripada berada dalam kerumunan?
Dalam konteks itu, kita menyadari bahwa ada tugas besar yang diemban FKIP UNTIRTA sebagai Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK). Dalam hal ini, penciptaan dan jaminan kualitas pembelajaran di pendidikan dasar dan menengah di Wilayah Provinsi Banten akan sangat ditentukan oleh profesionalitas calon guru yang dihasilkan FKIP Untirta. Menyikapi kondisi itu, dengan amanah yang diemban cukup berat, kebijakan dan keputusan institusional untuk meningkatkan kualitas pendidikan (termasuk guru) akan menjadi program formalitas belaka ketika FKIP Untirta tidak mengawalnya dengan idealisme dan kesadaran untuk tertib dan benar mengacu pada aturan formal dan positif sebagaimana yang semestinya.
Pelbagai kemajuan dan perubahan yang terjadi secara nasional dan lokal (di Banten), terutama menyangkut penyelenggaraan pendidikan menjadikan FKIP Untirta berhadapan dengan pelbagai tuntutan dan tantangan. Secara reflektif, lalu kita bertanya: ”Akankah mampu FKIP Untirta menjawab tuntutan dan tantangan itu?” Jawaban itu harus disodorkan demi memecahkan segenap masalah yang kini secara nyata dihadapai: ruang kuliah yang sangat tidak memadai (karena kerakusan sebagian pihak yang mengambil jalan belakang atau membuat jalur sendiri demi keuntungan finansial); nisbah dosen dan mahasiswa yang jauh dari rasio imbang; sarana dan fasilitas belajar yang jauh dari ideal; perpustakaan dan sumber belajar yang jauh dari sempurna; pengelolaan keuangan yang abu-abu; pelaksanaan aturan yang berstandar ganda; komunikasi antarpimpinan yang kerap macet; saluran aspirasi yang tersendat; proses administrasi dan birokrasi yang lemban dan berbelit; ketidakjelasan pola dan sistem kerja; pelayanan akademis dan administratif yang buruk terhadap mahasiswa; serta pelbagai masalah pelik lainnya.
Berangkat dari idealisme dan persoalan tersebut, serta cita-cita bersama ingin menjadikan FKIP Untirta menjadi lebih baik, pada tanggal 16 Agustus 2010 bertempat beberapa dosenman bersepakat untuk membentuk Forum Perubahan FKIP Untirta. Forum ini diharapkan akan menjadi wadah penjaga idealisme, katalisator profesionalitas, penyalur aspirasi, pressure group, dan kekuatan penyeimbang di FKIP Untirta di tengah persoalan berat bak benang kusut karena saling berjalin kelindan dan sulit dirunut serta mandulnya kinerja senat sebagai saluran aspirasi.
Forum yang digagas tersebut terbuka bagi setiap dosen di FKIP Untirta. Forum akan mengadakan pertemuan untuk membahas ide-ide perubahan setiap 2 pekan. Forum akan menyosialisasikan hasil diskusi pertemuan kepada seluruh csvitas akademika, Hasil diskusi akan dipublikasikan melalui: (1) Blog: http://forumperubahanfkipUntirta.wordpress.com/; (2) Grup Facebook: Forum Perubahan FKIP UNTIRTA.; (3) Email: forumperubahanfkipUntirta@yahoo.com; (4) Buletin: Forum Perubahan FKIP UNTIRTA.
Pertemuan berikutnya pada tanggal 25 Agustus 2010 bertempat FKIP Untirta. Beberapa dosen yang bersepakat pada pertemuan awal tidak dapat hadir karena sedang matrikulasi kuliah.
Pada pertemuan kedua ini dihasilkan keputusan untuk menjadikan forum ini sebagai forum ilmiah dan forum gerakan dengan mengusung tema Perubahan menuju FKIP Untirta sebagai LPTK yang Berkualitas. Adapun karakter forum ini: (1) digerakkan untuk kepentingan semua sivitas akademika; (2) penyampai aspirasi; (3) netral; (4) untuk masa depan lebih baik; (5) gerakannya terkontrol; (6) komitmen atas profesionalitas; (7) membuat langkah yang sistematis dan terarah; (8) kepercayaan kepada sesama; (9) konstruktif dengan membuat alternatif-alternatif solusi.
Tema-tema diskusi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya adalah (1) FKIP Untirta sebagai LPTK yang Berkualitas; (2) UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PP No. 37 tahun 2009 tentang Dosen, Statuta Untirta (Permendiknas 10 tahun 2007), dan Permendiknas 85 tahun 2008 tentang pedoman penyusunan statuta; (3) sistem akuntabilitas penyelenggara negara dan rahasia negara & jabatan; (4) pembagian dan deskripsi kerja kajur, sekjur, kaprodi, unit microteaching, perpustakaan, pj NR, staf TU, dan pimpinan fakultas. Permen 67 tahun 2008 tentang pengangkatan dan pemberhentian dosen sebagai pimpinan PT dan fakultas, PP 9 tahun 2003 tentang pengangkatan dan pemberhentian PNS; (5) sistem perencanaan program kerja tahunan, PP 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi; (6) sistem pengelolaan keuangan (honorarium & potongan, pajak, SPPD, peraturan menkeu, BPK, SK rektor, dana SPMA, dana taktis lembaga, PP no. 23 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan BLU, PP 48 tahun 2008 tentang pendanaan pendidikan; (7) sistem kepangkatan, jabatan fungsional; (8) sistem penerimaan mahasiswa baru; (9) kelas nonreguler atau paralel; (10) sistem pengelolaan nilai, registrasi, dan kontrak perkuliahan; (11) sistem PPLK; (12) sistem praktikum non-PPLK; (13) sistem pengelolaan bidang kemahasiswaan; (14) sistem kerjasama antarembaga; (15) sistem kelembagaan fakultas, kinerja anggota senat fakultas wakil dosen; (16) sistem pengelolaan kepegawaian (rekrutmen dan optimalisasi kinerja). UU no 43 tahun 1999 pokok-pokok kepegawaian, permen 61 tahun 2008 ttg mekanisme penjatuhan sanksi disiplin, permen 16 tahun 2009 ttg Satuan pengawas intern; (17) sistem penataan dan pengembangan SDM dosen. Permen 48 tahun 2009 tentang pedoman tugas belajar; (18) akreditasi di perguruan tinggi, Permen no. 6 tahun 2010. Permen 73 tahun 2009 ttg perangkat akreditasi S1, Perpanjangan izin program studi.
Mari bergabung, supaya kita tidak berkabung! Jika kata-kata tak cukup untuk melakukan perubahan, maka kita maklumi karena kata hanya bunyi yang selesai diucap akan kembali menjadi tiada dan yang tercipta hanya kesan. Karena itu, perubahan hanya mungkin diikhtiarkan dengan perbuatan, yang tak mungkin hilang tanpa jejak.. Satu perbuatan tentu lebih bermakna daripada satu perkataan. Itulah yang menjadi rahim kami saat melahirkan forum ini!

Kategori:Buletin
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: